Ada hati yang kau perlakukan seperti angin datang tanpa dipanggil, pergi tanpa diminta. Ia tak pernah terlihat, namun selalu terasa. Ia hadir di setiap jeda, menyusup di sela sunyi, membawa kabar yang tak sempat diucap namun terlanjur disimpan.
Hati itu setia berputar di arah yang sama, meski tahu tak selalu disambut. Ia menguatkan diri di balik senyum, menenangkan luka dengan dalih waktu. Tak menuntut untuk dimengerti, hanya berharap tak sepenuhnya diabaikan.
Namun seperti angin, ia sering disalahkan saat badai datang, dan dilupakan saat cuaca tenang. Padahal tanpa angin, tak ada kesejukan, tanpa hati, tak ada makna pada rasa.
Kini hati itu belajar bahwa tak semua tempat layak dijadikan persinggahan. Bahwa tak semua yang dicintai mampu menjaga. Maka ia memilih menepi, bukan karena lelah mencinta, tetapi karena ingin tetap utuh.
Jika suatu saat kau merasa kehilangan arah, mungkin itu karena angin yang dulu kau anggap biasa, kini memilih berlayar ke ruang yang lebih menghargai keberadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.